cerpennya aku

Sebulan Lalu
Oleh: Usriya Ni'ma Futihah


"Eh nitip charger-nya Naya dong, tolong kasihin dia di lantai dua. Gue males turun hehe." kataku pada seorang bernama Ardi. "Sini mana Gue kasihin, males terus Lo." ledek Ardi kembali padaku. "Hehe makasih Ardi, ganteng deh Lo kalo gitu." kataku sedikit memuji (meledek lebih tepatnya hehe). "Yehh apaan, kalo ada maunya doang Lo puji Gue. Yaudah Gue turun dulu." pamitnya padaku. "Hehe udah tau gitu, sana cepetan. Cepet balik gak usah kemana mana!" seruku pada Ardi.

 Dia Ardi. Sebulan lalu, dialah penenangku saat semua sahabatku tak mengerti keadaan dan perasaanku. Sebulan lalu, dialah penghiburku saat semesta mengabaikanku. Sebulan lalu, dialah penenangku saat semua sedang tak baik baik saja. Iya, sebulan lalu.

***

          Bel sekolah pertanda pulang telah bebunyi. Semua murid SMAN 8 pun berhamburan keluar dari kelas masing-masing.
“Rina!!!” panggil seseorang yang sebelumnya tak kuketahui siapa dia. Aku pun secara refleks menoleh ke sumber suara.
“Eh Ardi, apaan?” tanyaku sambil berjalan kearah Ardi.
“Hehe ngga kenapa napa sih. Lo keburu pulang nggak sih?” tanyanya padaku.
“Kalo keburu sih enggak. Kenapa emang?” tanyaku kembali pada Ardi.
“Temenin Gue disini bentar bisa dong hehe” katanya.
“Emang Lo mau ngapain?” tanyaku.
“Nggak ngapa ngapain, males balik aja.” katanya sambil membereskan barang-barangnya yang berceceran diatas meja.

Kami berdua pun berbincang cukup lama, hingga tanpa disadari jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
“Ya ampun udah jam lima, Gue balik duluan ya Di?” pamitku tergesa gesa.
“Gue anterin ya Rin?” tawar Ardi padaku.
“Aduh gak usah deh, ntar ngrepotin. Gak enak juga sana gebetan Lo.” kataku menolak.
“Udahlah selow aja, lagian kita juga cuma temen kan? Udah ayo turun. Keburu sore loh.” kata Ardi terus membujuk.
Iya, kita cuma teman.

          Keesokan harinya, seperti biasa Aku berangkat sekolah dengan diantar oleh Mama (maklum anak satu satunya hehe). Sesampaiku di sekolah, aku pun langsung berjalan menuju kelas dan duduk di bangku yang biasa Aku duduki. Tak lama kemudian.
“Selamat pagi Rina-ku hehe.” Ardi berjalan menuju bangkuku sambil tertawa.
“Yee apaan sih. Pagi pagi udah gombal.” kataku menanggapi Ardi.
“Hehe, eh btw Lo ntar malem ada waktu longgar gak?” tanya Ardi.
“Emm kayaknya sih iya. Kenapa sih?” tanyaku kembali.
“Ntar malem ada acara sholawat gitu di Lapangan Brawijaya. Gue pengen kesana, tapi anak-anak pada sibuk. Lo mau ikut?” tawarnya.
“Wew mau dong Gue. Eh tapi Gue berangkatnya gimana dong?” tanyaku memelas.
“Ya Gue jemput lah kerumah Lo. Masa iya Gue biarin lo berangkat sendirian.” kata Ardi melegakanku.
Akhirnya kami berdua pun sepakat mengunjungi acara tersebut.

          Hari bergulir dan malam pun tiba. Aku bersiap untuk menghadiri acara sholawat bersama Ardi. Malam itu gerimis mengguyur kota kami. Sehingga hawa dingin pun menjalar ke seluruh tubuh. Selang beberapa menit Aku menunggu, akhirnya Ardi pun datang.
“Udah lama ya Rin?” tanya Ardi begitu membuka kaca helm-nya.
“Enggak, barusan kok Gue nunggunya.” kataku pada Ardi.
“Oh yaudah yuk. Keburu deres nih hujannya. Gue lupa gak bawa jas hujan ngga papa kan?” tanyanya.
“Ngga papa lagi Di, lagian Gue juga suka main hujan hehe.” ucapku sambil mengenakan helm hitam milikku.
Kami pun menempuh perjalanan selama kurang lebih 15 menit. Dalam perjalanan kami saling bertukar cerita, bercanda, bahkan sesekali bernyanyi bersama. Sesampainya kami di tempat tujuan, kami segera mencari tempat yang cukup teduh karena gerimis tak kunjung reda.
“Lo ngga papa sampe malem Rin?” tanya Ardi begitu kami duduk.
“Ngga papa lagi Di. Gue udah izin.” kataku.

Menit demi menit pun berlalu, kami masih saja terduduk di atas rumput hijau di Lapangan Brawijaya. Mataku sudah sayu dan tak sanggup menahan kantuk karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Lo ngantuk ya Rin?” tanya Ardi sambil menepuk pundakku.
“E..eh ngga kok Di. Ituloh silau kena cahaya lampu.” elakku sambil menutup kedua mataku.
“Udah ngga usah nge-les, ayo pulang. Ntar Lo tidur di motor bahaya dong.” ajak Ardi.
Aku meng-iyakan ajakan Ardi. Kami berdua pun langsung berjalan pulang.

Dalam perjalanan pulang tiba-tiba Mamaku menelepon. Aku pun mengangkatnya dan kami berbincang sekitar dua menit di telepon.
“Siapa Rin?” tanya Ardi.
“Mama.” jawabku sambil membenarkan posisi helm-ku yang tak beraturan setelah Aku mengangkat telepon.
Ardi pun hanya ber-ooh ria mendengar jawaban singkatku. Sementara Ardi fokus menyetir, Aku pun tetap sibuk membenarkan posisi helm-ku yang sedari tadi menclek.
“Lo ngapain sih Rin sibuik sendiri?” tanya Ardi.
“Iniloh Di, helm Gue daritadi kacanya turun mulu. Sebel jadinya.” omelku sambil tetap pada posisi. Yap, membenarkan helm.
“Hahaha Lo tuh lama-lama lucu juga ya Rin.” kata Ardi sambil mengarahkan kaca spionnya kepadaku.
“Iih apaan sih. Udah sana fokus nyetir aja.” kataku tersipu.
Satu kalimat yang dilontarkan Ardi tadi berhasil membuatku melayang. ‘Ohh tuhann’ batinku.

Tak lama kemudian kamipun sampai di depan pagar rumahku. Aku pun bersegera masuk hingga hampir saja lupa berpamitan pada Ardi.
“Ehh Gue duluan ya Rin, Lo ati ati. Langsung tidur kalo udah di dalem, yang bahagia juga. Jangan sedih mulu. Hehehe.”kata Ardi berpamitan.
“Iya bawel deh, dadaaah” kataku sambil melambaikan tangan.
Ardi pun berlalu.

***

          Hari ini, tepat satu bulan seperti yang kusebutkan pada awal tadi. Tepat sebulan setelah berubahnya Ardi. Tepat sebulan dia tak pernah menyapa bahkan mengirim pesan singkat padaku. Entah apa yang ada di pikiran Ardi saat ini. Entah apa yang membuatnya berubah 360 derajat dari sebelumnya. Apakah ini semua karena Aku? Ataukah ini karena keegoisan Ardi sendiri? Entahlah, Ardi Aku tidak suka bermain teka teki sendiri. Aku tidak suka diambang kesepian sendiri. Tapi apalah dayaku yang selama ini hanya kau anggap sebagai temanmu. Dalam hati Aku ingin sekali marah, tapi Aku sadar aku tak berhak untuk semua ini. Terkadang Aku juga sakit hati melihatmu bersama yang lain, tapi untuk cemburu pun Aku tak pernah berhak.

          Ardi, lewat cerita ini Aku ingin kau tahu. Bahwa Aku juga mencintaimu sama seperti Dia yang telah lama bersamamu. Maaf karena Aku telah lancang mencintaimu dan bukan maksudku ingin kau kembali padaku. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa melupakan kenangan yang telah kita rajut bersama itu tidak semudah melarutkan gula dalam teh. Aku berterimakasih padamu karena kau sempat mengisi kekosongan hati ini walau sesaat. Terimakasih juga tentang secuil kenangan yang tak cukup mudah untuk kulupakan. Terimakasih kau bersedia hadir untukku sebulan lalu. Terimakasih Ardi.     

Komentar

Posting Komentar